Categories
Beropini

Berkarya karena keinginan dan kebutuhan, bukan karena paksaan

Kalau sedang malas, saya kadang bertanya pada diri sendiri, ‘kenapa ya aku berkarya?’.

Di zaman saya sekarang ini nilai karya lebih penting dibandingkan nilai angka. Sudah nggak keren sebegitu keren lagi nilainya nomor satu di kelas. Yang lebih dipentingkan adalah apa karyanya.

Namun walaupun sudah ‘selonggar’ itu, kadang rasanya masih segan atau malas berkarya. Kenapa ya?

Kemudian saya renungkan kembali satu-satu. Kenapa saya berkarya. Untuk apa. Apa manfaatnya, dan sebagainya.

Saya jadi merasa bahwa berkarya (dalam bentuk apapun) dan belajar itu hal yang sama. Keduanya itu kebutuhan dan keinginan pribadi. Bukan paksaan.

Kalau sedang bete karena terpaksa belajar, pasti jadinya asal-asalan dan nggak sesuai dengan effort. Walaupun belajarnya sudah banting tulang. Nah, sama dengan berkarya. Kalau berkarya bukan dari keinginan sendiri. Biasanya hasilnya nggak memuaskan. Rasanya jadi selalu ada yang kurang.

Bukan maksudnya saya menghakimi semua karya harus dari keinginan pribadi sih. Namun menurut saya keinginan dan ambisi untuk berkarya itu harus muncul dari diri sendiri. Nggak bisa dipaksakan. Karena diri kita sendiri yang perlu untuk berkarya. Misalnya kalau saya harus berkarya karena tugas atau disuruh orang, karyanya jadi amburadul karena ngebut batas deadline dan mengerjakannya setengah hati (sebuah cerita real).

Tentu saja saya menulis di blog ini juga karya. Makanya saya jarang posting. Walaupun saya jadwal ada waktu sendiri untuk menulis blog, hasil tulisannya sering nggak memuaskan. Malah bikin pusing karena tulisannya jelek, hohoho.

Saya juga ingin mengatakan sekali lagi bahwa berkarya itu juga kebutuhan. Dalam bentuk apapun itu, yang kita ciptakan atau kerjakan itu karya. Melukis dan bermain musik itu karya. Masakan ibu di dapur juga karya. Sama saja dengan menari ataupun menulis. semuanya karya. Makanya diri kita sendiri yang membutuhkan. Menghasilkan karya itu rasanya semacam punya anak, wkwk.

Walaupun begitu, karya bisa dihasilkan pada saat apapun. Berkarya karena kepentingan tugas pun baik-baik saja. Saya cuma mau mengutarakan bahwa karya yang ‘asli’ dari dalam diri kita itulah karya yang sebenarnya.

Kalau kata bukunya Mark Manson sih, jaman sekarang apapun bisa dibandingkan. Kalau jaman dulu seseorang lagi malas berkarya mungkin mereka bakal berkata, ‘Duh, hari ini payah banget. Karyaku nggak memuaskan! Sudahlah tidur saja’. Namun sekarang, kita malas berkarya terus cek sosial media. Dan kita malah disuguhi beragam karya orang-orang lain. Malah tambah…malas berkarya.

Dan nggak pernah ada kata telat kok untuk berkarya. Banyak orang-orang hebat yang baru menghasilkan ‘karya’ di usia tua. Jadi nggak harus dipaksakan juga. Yang penting ya…datang dari diri sendiri.

Yah jadi itu unek-unek nggak jelas saya hari ini. Nggak tahu sih masuk akal atau enggak. Habis saya kepingin banget update tulisan ini di blog.

Selamat berkarya! (Sofia mengatakan pada dirinya sendiri)

– Sofia K

年 2021 月 4 日 26 / 26 April 2021

(NB: Kenapa ya ide untuk nulis/berkarya munculnya selalu malem-malem. Jadi kepikiran buat naruh sticky notes di sebelah tempat tidur, hahaha)

Leave a Reply