Archive for October, 2008

Selamat Idul Fitri 1429H

Sunday, October 26th, 2008

Mumpung masih bulan Syawal, jadi mudah-mudahan tidak terlalu terlambat. Sofia, Mama, dan Ayah mengucapkan Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Tahun ini Sofia tidak langsung mudik pada hari raya, jadi kami menghabiskan waktu bahagia ini di rumah Jakarta.

Selamat Idul Fitri 1429H
Selamat Idul Fitri 1429H

Sofia Takut

Wednesday, October 22nd, 2008

Sofi baru kembali ke Jakarta bersama ayah dan mama hari ini. Sofia senang bertemu kembali dengan mainannya, boneka kesayangannya, dan juga saluran tivi yang disukainya.

Sofia kembali ke aktivitas rutinnya, termasuk ketika sore hari ditinggal mamanya kuliah.

Tapi akhirnya Sofia sudah bobok sebelum mama berangkat kuliah. Tampaknya ia capek banget, maklum setelah balik dari stasiun dia tidak mau tidur sama sekali, dan selalu mengajak main.

Pada pukul 18:15an, Sofia bangun. Ia langsung keluar dari kamar, dan langsung mencari mamanya.

“Mama di mana, Yah?” tanya Sofia.

Lalu ayah bilang, “Eh, anak ayah bangun. Sini ayah peluk.” Kemudian ayah peluk Sofia. Lalu ayah bilang lagi, “Mama tadi sudah berangkat kuliah. Mama minta ayah tolong pamitin pada anaknya.”

Dibilangin demikian, Sofia tenang, lalu ia melepaskan pelukan dari ayah. Lalu Sofia meminta pada ayah, “Yah, nonton tivi kupu-kupu!”

Jadilah ayah yang lagi nonton CSI langsung batal.

Pada pukul 19:15-an, mama telpon, pertama nanya-nanya seputar artikel tentang Bali, pulau yang lebih dulu terkenal daripada Indonesia ini pernah dimuat di The New Yorker pertama kali pada edisi awal majalah itu, pada 1933 dan 1934. Bali dimuat dalam cuplikan kartun di majalah itu. Kemudian beberapa menit kemudian, sekitar pukul 20:00-an, mama telpon minta dijemput.

Awalnya ayah agak kurang sreg, maklum hari sudah malam. Tapi ayah pikir biar Sofi senang, dan dapat udara segar, boleh lah keluar sebentar. Sambil menunggu mama datang, Sofi minta dibelikan minuman sari kacang hijau Ultra Jaya. Setelah minuman habis, tampak mama datang.

Kemudian kita bertiga balik ke rumah. Ketika sampai di ruas jalan dekat rumah kami, tiba-tiba ada motor ngebut dari arah berlawanan. Dan, parahnya, pengendara motor tersebut juga mendahului motor satunya yang kebetulan berpapasan dengan kami.

Ayah kaget dan panik, maklum bawa Sofi di depan, langsung misuh-misuh. Hampir saja ia menyerempet motor kami. Kebiasaan buruk ya Yah, misuh-misuh, tapi gimana normal aja kaget lalu teriak seperti itu. Habisnya orang tersebut ngawur banget. Dan kekhawatiran di hati ayah bahwa orang tersebut balik ternyata benar.

Orang tersebut balik lagi dan memarkir motornya di depan kami. Dia lalu memaki-maki, dengan mengatakan dirinya tidak salah. Sudah terbukti dia yang salah dan banyak orang menyaksikan hal tersebut. Kami hanya bereaksi saja. Ayah baru sadar ternyata orangnya mabuk. Dan orang tersebut mau mengamuk. Ayah sih siap-siap saja, badan ayah lebih besar, hehehe, apalagi lawan orang mabuk. Tapi ayah khawatir terjadi sesuatu di hadapan Sofi, dan itu tidak baik. Dan memang benar, Sofi menangis kencang-kencang. Lalu Sofi ayah kasihkan mama. 

Untung orang-orang yang nongkrong di jalan itu membantu kami dengan cara memblok orang yang mengamuk itu. Ayah hanya diam saja di motor dengan memendam emosi. Ayah lalu minta maaf pada orang sekitar, “Mohon maaf terjadi seperti ini!” Lalu kami pamitan aja menghindar.

Saat itulah kami berpikir keras, kejadian ini pasti berpengaruh pada Sofia. Dan memang benar. Sampai di rumah, bahkan setelah kami ajak makan atau dia menggambar, Sofia masih berulang kali menyebut kejadian tadi, “Ma, tadi ada orang-orang ya?” demikian ia berulang kami berkata kepada kami. 

“Sofia takut,” katanya.

Saat ini Sofia sudah tidur, tentu saja. Tapi kejadian tadi terus terang mengkhawatirkan kami, sebagai orang tua, dalam perkembangan anak kami. Kami selalu berusaha menanamkan positivisme kepada Sofi. Dan tentu saja, kami sadar anak juga harus mengetahui adanya hal-hal negatif di dunia ini, karena begitulah nantinya dia akan menghadapi hidup di dunia ini. Kami cuma terkejut ketika ia harus menghadapi dalam usia semuda ini, dua tahun empat bulan.

Entahlah, mudah-mudahan tidak. Saya berpikir ada beberapa sisi positif dalam kejadian ini, misalnya tentang sifat dan kesukaan Sofi memaksa untuk duduk di depan ketika mengendarai motor (dalam jarak dekat, misal menjemput mamanya). Atau hal-hal lain. Tapi hal ini lebih baik diulas dalam posting lainnya.

Pesan dari kami, berhati-hatilah sebagai orang tua. Saya pribadi tidak luput dari hal ini, dan pesan ini terutama kami tunjukkan pada kami sendiri. Berhati-hatilah ketika marah di rumah tangga Anda, terutama di depan anak. Anak Anda adalah perekam paling mutakhir dan rekamannya tidak mudah lekang oleh waktu dan cuaca.

Ketakutan Sofia adalah pelajaran utama kami sebagai orangtuanya.

Gambar Manusia

Tuesday, October 21st, 2008

Inilah gambar pertama Sofia yang dia nyatakan sebagai manusia. 

Ayah yang awalnya mengetahui hal ini, ketika ayah tanya pada Sofia, dan ia menjawab itu adalah mata, hidung, mulut, dst. Mulanya ayah bingung, karena Sofia menggambar secara terbalik. Coba lihat gambar ini terbalik, pasti bingung.

Dan Sofi memang menggambar dengan cara terbalik, dimulai dari separuh kepala (atas), lalu menggambar kedua bola mata, lalu hidung, lalu mulut, dan menutup separuh kepala bagian bawah. Kemudian ia menggambar garis. Tapi Sofia mengatakannya sebagai tali, ia sampai sekarang masih menganggap itu seperti balon :) Dan kemudian menambahkan dengan rambut.

Selamat anakku sayang. Ketika ayah mengetahu hal ini, ayah lalu memanggil mama dan embahnya. Dan Sofia menunjukkan berulang-ulang ia menggambar obyek lainnya. Sayang gambar tersebut tidak terdokumentasi dan sudah diwarnai oleh Sofi, maksudnya sudah dicoret-coret tidak keruan. Maklum, sampai sekarang Sofia belum bisa mengontrol cara mewarnai gambarnya.

Sofia memang tidak pernah diarahin harus menggambar apa. Sofi biasanya hanya pingin menggambar. Dan kadang-kadang, kalau Sofi meminta, ayah atau mama akan menggambar suatu obyek hingga Sofia senang. Kami tidak berharap ia sempurna menggambar sesuatu dalam aktivitas ini. Kami hanya berharap Sofi senang melakukan aktivitas itu. Dan, alhamdulillah, terbukti bahwa cara yang kami usahakan cukup berhasil, paling tidak hingga saat ini.

Foto lain dan video menggambar akan menyusul. Akan direkam dulu ya!

Sofia Ke Rumah Embah

Monday, October 13th, 2008

Kali ini Sofi ke Rumah Embah di Solo hanya sama Ayah. Mama masih di jakarta. Mama gak mau bolos kuliah lama-lama. Soalnya bentar lagi UTS trus Mama juga banyak PR. Kasihan Mama. Tapi Sofia ngerti kok. Gak papa, kan nanti Mama juga nyusul Sofia tanggal 15 Oktober. Dan juga, Mama biar cepet lulus. Ya Ma ya?

Habis Magrib, Sofia dan Ayah naik taksi ke Gambir. Mama melepas kami dengan berkali-kali mencium dan memelukku. “Ya Ma, Sofi juga sayang Mama”, kataku dalam hati. Sofi gak nangis loh. Sofikan udah besar, Umur Setahun empat bulan. Jadi udah bisa paham kalo Mama sama Ayah kasih penjelasan. Mama sama Ayah kan gak pernah bohong sama Sofi. Beliau selalu kasih tau Sofi apapun itu. Enak, Sofi selalu diajak ngobrol.

Sampai stasiun, Sofi dibeliin ayah donat. Mmm,,, enak deh. Trus habis itu kami naek ke dalam kereta, hmmm dingin. Ayah nelp mama beberapa kali. Tapi Sofi nggak  mau ngomong sama Mama. Sofi sedang enjoy Ma. Bukannya kenapa. Asik deh rasanya. Sofikan gak sabaran dari kemaren. Pengennya cepet-cepet ketemu Embah. Tadi saja baru sampe stasiun Sofi sudah tanya sama Ayah,”Embah mana Yah?”

Jam 10 malam, kereta sudah dari jam 8 tadi berangkat. Ayah nelp Mama lagi. Gara-garanya Sofia minta maem. Mama bilang Ayah kalau tadi Sofi sudah makan cukup. Ayah juga bilang kalau Sofi sudah makan donat banyak. Tapi Sofi bilang lapar. Ditelepon Sofi bilang sama mama,”MAAA OFIA LAPAR!! MAU MAEM!!” Usut punya usut, ternyata Sofi cuma laper mata. Gara-gara melihat pegawai kereta yang hilir mudik bawa piring kosong. “Sofia, Sofia,,,,” kata Mama dan Ayah bergantian.

Esok harinya jam 1/2 6 pagi Ayah nelp Mama. Kasih kabar kalau kami sudah sampe rumah Embah dengan selamat. Alhamdulillah.