Kategori
Kegiatan

Batuk Pilek di Awal Tahun

Sejak kemarin siang badan Sofi mulai memanas. Sebelumnya dia ngeluh pusing. Tapi Mama baru yakin pas Sofi bangun tidur sorenya.

Diukur pakai termometer kempit 😀 suhunya langsung nanjak ke 38.4 derajat. Tapi Mama gak panik. Ya. Soalnya Sofi juga gak rewel. Dia masih tetep asyik bermain.

Walau begitu saya berkali-kali nanya ke Sofi,”gimana nak? Yang sakit apanya?”, atau,”masih sakit nak?” Sampai-sampai Sofi nyeletuk,”Udah to Ma, jangan ditanyain terusss!” Ups!

Sofi juga bilang,”Sofi sedang nggak enak badan Maa.. bukan sakit.” Ya, dia paranoid dengan kata-kata “sakit” karena asumsinya harus minum obat.

Padahal saya juga nggak pengen buru-buru kasih dia obat. Tapi buat jaga-jaga, saya nitip Pamol ke Suami yang lagi nonton Sherlock Homes di PIM. Soalnya di rumah lagi gak punya persediaan. Trus suhu terakhir sebelum tidur 38.7 derajat.

Sebenarnya kalo besok Sofi masih panas, saya pilih kasih dia kunyit dulu. Tapi ternyata ketika saya bangun pagi panasnya sudah turun. Alhamdulillah deh. Jadi mamanya gak kawatir ninggalin dia di rumah. Saya ada janji ketemu dosen pembimbing pagi ini.

Siangnya ketahuan deh batuk pileknya keluar. Suaranya jadi aneh. Sayapun sudah siap klo harus begadang malam ini. Biasanya Sofi rewelnya kalo pilek. Hidung mampet ganggu tidurnya.

Tapi sampai saya nulis blog ini tidurnya masih pulas dengan posisi miring ke kiri.

Saya berpikir apa penyebab sakitnya Sofi. Dan ada beberapa kemungkinan yang saya dapat:

1. Lagi musim dingin. Tadi pembimbing saya juga bilang musim dingin musim anak panas. Soalnya cucunya juga sedang sakit dan setelah selesai dengan saya dia mau nganterin cucunya pijit.

2. Gara-gara Buavita. Dua hari yang lalu Ayah beli 6 karton Buavita berbagai rasa. Padahal kami lebih suka buah benerannya daripada yang begituan. Penyebabnya promo beli 3 karton @Rp17.500,- dapat 1 tiket masuk gratis Snow Bay.
Saya berkata dalam hati kalau rasanya muanis banget. Trus baca kandungan isinya langsung membatin, nggak tuman ah.

Penyebab yang kedua itu sepertinya yang paling kuat. Soalnya tadi sore pas Ayah kasih dia yang rasa mangga, batuk Sofi langsung menjadi-jadi. Langsung Saya tekankan agar Sofi tidak boleh minum yang manis-manis dulu sebelum batuknya lenyap.

Kami putuskan untuk memberinya ramuan sesendok kecap campur sedikit perasan air jeruk nipis. Tapi Sofi menolak dan menangis. Blom juga dibikinin nak 🙂

Dia bilang nggak suka rasanya yang kecut. Saya bilang,”tapi kenapa Sofi suka es jeruk ya? Dia kan juga manis manis asem.” Setelah berargumen dengan Ayah dan Mamanya, Sofi memutuskan mau minum tapi besok.

Kamipun menambahkan kata-kata,”Yaa besok minumnya tapi kalo masih batuk ya! Kalo udah sembuh ngapain minum ya nak?” Tujuan kami untuk memotivasi dia untuk segera sembuh (self healing).

Sebelum tidur tadi dia mengulangi kata-katanya untuk minum kecap besok. Sayapun bilang dengan jawaban yang sama. Sekarang dia tidur pulas di samping Ayahnya. Cepat sehat ya Nak.. Sayangku.