Sofia Takut

Sofi baru kembali ke Jakarta bersama ayah dan mama hari ini. Sofia senang bertemu kembali dengan mainannya, boneka kesayangannya, dan juga saluran tivi yang disukainya.

Sofia kembali ke aktivitas rutinnya, termasuk ketika sore hari ditinggal mamanya kuliah.

Tapi akhirnya Sofia sudah bobok sebelum mama berangkat kuliah. Tampaknya ia capek banget, maklum setelah balik dari stasiun dia tidak mau tidur sama sekali, dan selalu mengajak main.

Pada pukul 18:15an, Sofia bangun. Ia langsung keluar dari kamar, dan langsung mencari mamanya.

“Mama di mana, Yah?” tanya Sofia.

Lalu ayah bilang, “Eh, anak ayah bangun. Sini ayah peluk.” Kemudian ayah peluk Sofia. Lalu ayah bilang lagi, “Mama tadi sudah berangkat kuliah. Mama minta ayah tolong pamitin pada anaknya.”

Dibilangin demikian, Sofia tenang, lalu ia melepaskan pelukan dari ayah. Lalu Sofia meminta pada ayah, “Yah, nonton tivi kupu-kupu!”

Jadilah ayah yang lagi nonton CSI langsung batal.

Pada pukul 19:15-an, mama telpon, pertama nanya-nanya seputar artikel tentang Bali, pulau yang lebih dulu terkenal daripada Indonesia ini pernah dimuat di The New Yorker pertama kali pada edisi awal majalah itu, pada 1933 dan 1934. Bali dimuat dalam cuplikan kartun di majalah itu. Kemudian beberapa menit kemudian, sekitar pukul 20:00-an, mama telpon minta dijemput.

Awalnya ayah agak kurang sreg, maklum hari sudah malam. Tapi ayah pikir biar Sofi senang, dan dapat udara segar, boleh lah keluar sebentar. Sambil menunggu mama datang, Sofi minta dibelikan minuman sari kacang hijau Ultra Jaya. Setelah minuman habis, tampak mama datang.

Kemudian kita bertiga balik ke rumah. Ketika sampai di ruas jalan dekat rumah kami, tiba-tiba ada motor ngebut dari arah berlawanan. Dan, parahnya, pengendara motor tersebut juga mendahului motor satunya yang kebetulan berpapasan dengan kami.

Ayah kaget dan panik, maklum bawa Sofi di depan, langsung misuh-misuh. Hampir saja ia menyerempet motor kami. Kebiasaan buruk ya Yah, misuh-misuh, tapi gimana normal aja kaget lalu teriak seperti itu. Habisnya orang tersebut ngawur banget. Dan kekhawatiran di hati ayah bahwa orang tersebut balik ternyata benar.

Orang tersebut balik lagi dan memarkir motornya di depan kami. Dia lalu memaki-maki, dengan mengatakan dirinya tidak salah. Sudah terbukti dia yang salah dan banyak orang menyaksikan hal tersebut. Kami hanya bereaksi saja. Ayah baru sadar ternyata orangnya mabuk. Dan orang tersebut mau mengamuk. Ayah sih siap-siap saja, badan ayah lebih besar, hehehe, apalagi lawan orang mabuk. Tapi ayah khawatir terjadi sesuatu di hadapan Sofi, dan itu tidak baik. Dan memang benar, Sofi menangis kencang-kencang. Lalu Sofi ayah kasihkan mama. 

Untung orang-orang yang nongkrong di jalan itu membantu kami dengan cara memblok orang yang mengamuk itu. Ayah hanya diam saja di motor dengan memendam emosi. Ayah lalu minta maaf pada orang sekitar, “Mohon maaf terjadi seperti ini!” Lalu kami pamitan aja menghindar.

Saat itulah kami berpikir keras, kejadian ini pasti berpengaruh pada Sofia. Dan memang benar. Sampai di rumah, bahkan setelah kami ajak makan atau dia menggambar, Sofia masih berulang kali menyebut kejadian tadi, “Ma, tadi ada orang-orang ya?” demikian ia berulang kami berkata kepada kami. 

“Sofia takut,” katanya.

Saat ini Sofia sudah tidur, tentu saja. Tapi kejadian tadi terus terang mengkhawatirkan kami, sebagai orang tua, dalam perkembangan anak kami. Kami selalu berusaha menanamkan positivisme kepada Sofi. Dan tentu saja, kami sadar anak juga harus mengetahui adanya hal-hal negatif di dunia ini, karena begitulah nantinya dia akan menghadapi hidup di dunia ini. Kami cuma terkejut ketika ia harus menghadapi dalam usia semuda ini, dua tahun empat bulan.

Entahlah, mudah-mudahan tidak. Saya berpikir ada beberapa sisi positif dalam kejadian ini, misalnya tentang sifat dan kesukaan Sofi memaksa untuk duduk di depan ketika mengendarai motor (dalam jarak dekat, misal menjemput mamanya). Atau hal-hal lain. Tapi hal ini lebih baik diulas dalam posting lainnya.

Pesan dari kami, berhati-hatilah sebagai orang tua. Saya pribadi tidak luput dari hal ini, dan pesan ini terutama kami tunjukkan pada kami sendiri. Berhati-hatilah ketika marah di rumah tangga Anda, terutama di depan anak. Anak Anda adalah perekam paling mutakhir dan rekamannya tidak mudah lekang oleh waktu dan cuaca.

Ketakutan Sofia adalah pelajaran utama kami sebagai orangtuanya.

Leave a Reply